Sekolah
sebagai institusi formal yang memiliki tugas penting bukan hanya meningkatkan
penguasaan informasi dan teknoligi peserta didik, tetapi juga bertugas dalam
pembentukan kapasitas bertanggung jawab dan kapasitas pengambilan keputusan
yang bijak dalam kehidupan. Untuk itulah kemudian disusun suatu model baru
dalam pendidikan moral yang berujung pada pendidikan karakter agar penyakit
yang berada dalam masyarakat Amerika maupun Negara manapun di bumi ini dapat
diobati.
Pendidikan merupakan hal terpenting
dalam membentuk kepribadian. Pendidikan informal dn non formal pun memiliki
peran yang sama untuk membentuk kepribdian, terutama anak atau peserta didik.
Dengan mempelajari gejala-gejala
negative yang dimiliki anak remaja pada umumnya, orang tua dan pendidik akan
menyadari dan melakukan upaya perbaikan perlakuan sikap terahadap anak dalam
proses pendidikan formal, non formal, dan informal.
Adapun
peranan sekolah dengan melalui kurikulum menurut Hasbullah, sebagai berikut:
1.
Anak
didik belajar bergaul sesame anak didik, antar guru dengan anak didik dan anak
didik dengan orang yang bukan guru.
2.
Anak
didik belajar menaati peraturan – peraturan sekolah.
3.
Mempersiapkan
anak didik untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi agama, bangsa,
dan Negara.
Adapun fungsinya sebagai berikut:
1.
Mengembangkan
kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan.
2.
Sebagai
lembaga social yang spesialisasinya dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
3.
Lebih
efisien, karena dilaksanakan dalam program yang tertentu dan sistematis.
4.
Memiliki
peran yang penting dalam proses sosialisasi.
5.
Memelihara
warisan budaya yang hidup dalam masyarakat.
Menyadari sekolah memiliki peran
yang strategis, sudah saatnya pendidikan karakter (budi pekerti)
ditumbuh-kembangkan di segala lingkungan pendidikan.
Menurut Mochtar Buchori (2007),
pendidikan karakter di sekolah seharusnaya dapat membawa peserta didik kepada
pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara nyata. Secara instutusional, pemerintah
hendaknya memasukkan pendidikan budaya dan karakter bangsa melalui penguatan
kurikulum, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, sebagai bagian
dari penguatan system pendidikan nasional.
Pendidikan karakter juga bertujuan
untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang
mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik
secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan.
Pendidikan karakter adalah gerakan nasional untuk menciptakan sekolah yang
membina generasi muda yang beretika, bertanggung jawab, dan peduli melalui
pemodelan dan mengajarkan karakter baik dengan penekanan pada nilai universal
yang kita setujui bersama. Menurut Horace
Mann (1796-1859) bahwa sekolah-sekolah haruslah menjadi penggerak utama
dalam pendidikan yang bebas, dimana pendidikan sebaiknya bersifat universal,
tidak memihak, dan bebas. Dengan demikian tujuan utama pendidikan adalah
sebagai penggerak efisiensi social, pembentuk kebijakan berkewarganegaraan dan
pencipta manusia berkarakter, jadi bukan untuk kepentingan salah satu pihak
tertentu.
Dalam implementasinya di kelas,
pendidikan karakter bisa dikembangkan melalui poin-pon berikut:
1.
Cinta
Tuhan dan kebenaran (Love Allah,trust, reverence, loyalty)
2.
Tanggung
jawab, kedisiplinan, dan kemandirian (responsibility, excellence, self
reliance, discipline, orderliness).
3.
Amanah
(trustworthiness, reliability, honesty).
4.
Hormat
dan santun (respect, courtesy, obedience).
5.
Kasih
sayang, kepedulian, dan kerjasama (love, compassion, caring, empathy,
generousity, moderation, cooperation).
6.
Percaya
diri, kreatif, dan pantang menyerah (confidence, assertiveness, creativity, resourcefulness,
courage, determination, and enthusiasm).
7.
Keadilan
dan kepemimpinan (justice, fairness, mercy, leadership).
8.
Baik
dan rendah hati (Kindness, friendliness, humility, modesty).
9.
Toleransi
dan cinta damai (tolerance, flexibility, peacefulness, unity).
Hal lain yang perlu diperhatikan
agar pendidikan karakter berhasil dikembangkan yakni:
Pertama, Istilah karakter
harus sama-sama dipahami dahulu kebanyakan sekolah mengidentikkan karakter
dengan pelajaran agama, sehingga dikhawatirkan justru kegiatan keagamaan yang
ditonjolkan. Padahal pendidikan karakter bukan hanya tentang agama an sich.
Kedua, pembentukan karakter
tidak dapat terjadi melalui proses belajar mengajar di kelas secara
konvensional. Dalam hal ini peran seorang guru sebagai role model mutlal
dibutuhkan.
Ktiga, keberhasilan
pendidikan karakter harus jelas indikatornya.
Keempat, adanya perhatian yang serius dari segenap pemegang kebijakan di
negeri ini.
Jadi,
pada dasarnya pendidikan sebagai wahana dalam pembentukan karakter hanya bisa
berhasil jika dimulai dari hal-hal yang mendasar, keseharian, dan yang
terkadang kelihatanyya sepele,bukan dengan retorika dan slogan-slogan fantasis.
Pendidikan karakter di sekolah dapat
diimplementasikan sebagai berikut:
1.
Diajarkan
melalui pemodelan, suasana, dan kurikulum,
2.
Datang
dari rumah, komunitas, dan sekolah,
3.
Alah
jalan proaktif mengadptasi dan menggunakan materi pendidikan yang sudah ada
untuk meningkatkan pemahaman dan menginspirasi pengembangan ciri karakter yang
baik di semua siswa di setiap bagian pengalaman belajar mereka,
4.
Adalah
belajar untuk membuat pilihan dan keputusan yang baik,
5.
Adalah
belajar tentang hubungan positif dan pengembangannya berdasarkan perkembangan
dan kedalaman karkater kita,
6.
Adalah
didasari hubungan dan budaya sekolah,
7.
Adalah
proses, bukan hanya program,
8.
Yang
terbaik adalah,perubahan (reformasi) sekolah,
9.
Adalah
didasari oleh riset, teori, dan yang lebih penting lagi adalah keterlibatan
guru dan siswa,
10. Adalah mengeluarkan yang terbaik dari kita semua, guru, dan siswa.
Guru dalam bahasa jawa berarti
digugu lan ditiru, sesungguhnya menjadi jiwa bagi pembentukan kepribadian dan
karakter seorang siswa. Kita ingat ungkapan Soekrano di hadapan guru Taman
Siswa, dalam sambutannya:
“Guru
yang bersifat hakikatnya hijau, akan ‘beranak’ hijau, guru yang sifat
hakikatnya hitam akan ‘beranak’ hitam. Saya tidak mau masuk ke dalam
golongannya orang-orang yang mengatakan bahwa guru bisa ‘main komedi’ kepada
anak-anak.”
Untuk menjadi teladan tidaklah semudah
membalikkan telapak tangan, namun ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan
guru untuk mengembangkan nilai-nilai keteladanan itu yaitu :
Pertama
,konsekuen dengan apa yang diajarkan, sebelum mengajarkan suatu
nilai baik kepada siswa perlu berefleksi bagaimana ia sendiri menjalankan nilai
itu dalam hidup.
Kedua,
tidak main topeng. Tidak sedikit guru yang sering main topeng
dihadapan siswa. Guru perlu berlatih untuk menerima diri apa adanya dengan
segala kekurangan dan kelemahannya. Bila memang bersalah, tidak ada salahnya ia
berani mengakuinya di hadapan siswa, bila memang tidak tahu, kenapa masih
berupaya untuk menjadi orang sok tahu.
Ketiga,
belajar tanpa henti. Guru hanya dapat membantu siswa mengembangkan
potensi dan kemampuannya bila guru sendiri terus belajar. Dengan terus belajar,
guru akan semakin banyak tahu. Guru yang banyak tahu akan mudah menularkan
pengetahuannya kepada siswa.
Guru harus memberikan rasa aman dan
keselamatan kepada setiap peserta didik di dalam menjalnkan masa-masa
belajrnya. Seorang guru harus berperan sebagai :
1.
Pekerja
social (social worker), yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan
kepada masyarakat;
2.
Pelajar
dan ilmuwan, yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus-menerus
untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya;
3.
Orang
tua, artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta
didik di sekolah;
4.
Model
keteladanan, artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh para
peserta didik; dan
5.
Pemberi
rasa aman dan kasih sayang bagi setiap peserta didik. Peserta didik diharapkan akan merasa aman
berada dalam didikan gurunya.
Seorang guru harus senantiasa mau
berinstropeksi pada diri sendiri. Betapa banyak guru sering menempatkan dirinya
sebagai dewa kebenaran yang seolah-olah serba tahu semua keinginan muridnya.
Guru harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran
peserta didik. Di masa depan, guru bukan satu-stunya orang yang paling pandai
di tengah-tengah peserta didiknya. Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana
pendidikan anak gagal karena ulah guru yang ternyata tidak memberikan teladan
dalam tingkah laku mereka. Misalnya,guru sering mengajarkan kesamaan hak, tetapi
dia sendiri pilih kasih terhadap anak-anak tertentu; guru mengajarkan
nilai-nilai kejujuran kepada siswa sementara dia sendiri menyalahgunakan
wewenang yang diamanatkan kepadanya.
Seorang siswa disekolah banyak
belajar dari apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar, apa yang mereka
rasakan, dan apa yang mereka lakukan. Untuk itu, pendidikan kepribadian
sesungguhnya merupakan tuntutan terutama bagi kalangan pendidik itu sendiri.
Keteladanan memang menjadi salah satu hal klasik bagi berhasilnya sebuah tujuan
pendidikan. Oleh karena itu, tumpuan pendidikan seorang murid ada di pundak
para guru. Konsistensi dalam pembelajaran, tidak sekadar melaui apa yang
dikatakan melalui pembelajaran di kelas, melainkan nilai itu juga tampil dalam
diri pribadi sang guru, dalam kehidupan yang nyata di luar kelas.
Daftar Pustaka : M. Noor, Rohinah. 2012. Mengembangkan Karakter Anak Secara Efektif di Sekolah dan di Rumah. Sleman: Pedagogia.
Sumber Gambar : Google
Sumber Gambar : Google
0 Komentar untuk "Pendidikan Karakter Di Sekolah"